Hubunganku dengan Kematian

Ketika hidup hanyalah sementara, sebenarnya apa yang sedang kita usahakan di dunia ini?

6/16/20262 min read

Ketika hidup hanyalah sementara, sebenarnya apa yang sedang kita usahakan di dunia ini?

Aku sempat lupa bahwa kematian akan datang dengan sendirinya. Beberapa waktu terakhir, hubungan kami bahkan terasa terlalu dekat

Namun kemarin, untuk pertama kalinya, aku menghadiri sebuah pemakaman.

Aku tidak menyangka pengalaman itu bisa sedalam itu.

Pergulatan hidup yang terasa begitu besar setiap hari, ternyata dapat berhenti hanya dalam sekejap waktu. Kita mati, dikubur seorang diri, dikremasi, selesai. Setelah itu, waktu tetap berjalan. Orang-orang tetap berangkat kerja. Jalanan tetap ramai. Dunia tidak ikut berhenti.

Aku termenung cukup lama di sana, mempertanyakan eksistensi diri dan gemerlap dunia yang selama ini kujalani.

Di tengah suasana rumah duka, aku teringat banyak hal. Seseorang pernah berkata, "Ayo kita keliling dunia." Tahun ini aku hanya sekali bepergian, sementara beberapa temanku sudah tiga atau lima kali ke luar negeri. Ternyata versi hidup kita berbeda. Ada yang sedang berlari, ada yang sedang berjalan, ada yang masih berusaha berdiri.

Di rumah duka itu, orang-orang silih berganti datang dan pergi. Ada tangis haru biru, ada pelukan, ada cerita yang diulang berkali-kali agar kenangan tetap hidup sedikit lebih lama.

Aku masih menyimpan banyak tanda tanya. Tentang bagaimana kematian akan hadir suatu hari nanti. Tentang bagaimana rasanya ditinggalkan oleh kematian, berteman dengan waktu yang tak dapat berhenti, bergumul dengan kenangan, dan pertanyan yang tak kan lagi dapat jawaban.

Momen itu membuatku bertanya pada diri sendiri: mengapa aku sering bergumul dengan masa lalu dan mengkhawatirkan masa depan, sementara masa kini terus lewat tanpa benar-benar kujalani? Mengapa tawa yang pernah berulang terasa begitu mudah terlupakan, sementara satu kalimat yang menyakitkan bisa tinggal begitu lama hingga hanya gelap yang terlihat?

Berkali-kali aku ditanya mengapa aku tidak bisa memilih pertemanan. Mungkin pertanyaannya bukan siapa yang harus disingkirkan, melainkan siapa yang seharusnya mendapatkan lebih banyak energiku selama aku masih memiliki waktu untuk memberikannya.

Di pemakaman itu aku juga menyadari sesuatu yang jauh lebih praktis. Selain mempersiapkan hidup, ternyata ada kematian yang perlu dipersiapkan. Biaya ambulans, pemakaman, atau kremasi bukanlah perkara sederhana. Bahkan untuk pergi pun, manusia masih membutuhkan banyak hal.

Mungkin karena itu aku pulang dengan perasaan yang berbeda.

Bukan karena aku menemukan jawaban atas semua pertanyaan tentang hidup dan kematian.

Melainkan karena untuk pertama kalinya aku benar-benar melihat bahwa kematian bukan hanya tentang seseorang yang pergi. Ia juga tentang mereka yang tinggal, kenangan yang tersisa, dan waktu yang tetap berjalan tanpa menunggu siapa pun.***

halogina

Telling stories, in words and visual.

Follow

Reach

sapa@halogina.com

© 2026. May you find some chocolates here.