Memoir Kepala Tiga, Bagian 1: Yang Tersisa dari Diri Sendiri

mungkin kita tidak benar-benar kehilangan orang lain, mungkin kita hanya terlalu jauh dari diri sendiri.

3/28/20262 min read

Tulisan ini adalah tulisan pribadi.
Untuk diri sendiri.
Tentang kita yang terkadang lupa pada diri sendiri ketika sedang berelasi dengan seseorang.

Mungkin ada yang mengalami hal yang sama.
Tapi lebih dari itu, ini adalah caraku merapikan isi kepala.

Apa sebenarnya makna relasi dan kehidupan ini, bagiku sendiri?

- - -

Semua ini berawal dari pagi yang biasa.
Saat meracik matcha, tiba-tiba aku ingin duduk. Diam.
Menaruh tangan di meja, lalu bertanya,

semesta, semua ini apa?

Apa ini tanda untuk menyerah?
Berhenti?
Atau mundur dari kehidupan yang sedang kujalani?

- - -

Setelah itu, aku menulis.
Mengulang tahun-tahun ke belakang.
Mencoba memahami tiga puluh tahun hidupku.

Tidak banyak yang kuingat.
Selain satu hal,
sepuluh tahun terakhir, aku terbiasa bersama seseorang.

Sebut saja: kekasih.

Selama itu, kupikir hidup cukup dengan memiliki seseorang untuk berbagi.
Tapi tanpa kusadari, langkahku justru menjauh dari diriku sendiri.

Seseorang yang kukenal di masa belia,
entah ke mana perginya.

Fokusku berubah.
Prioritasku berubah.

Dan anehnya, tak satu pun menjadi alarm.

Alarmnya selalu datang di akhir,
saat kapal sudah karam.

Dan setiap kali karam,
yang tenggelam bukan hanya hubungan itu,
tapi juga diriku sendiri.

Jatuh pada kegelapan yang sama.
Berulang.
Pola yang sama.

- - -

Apa yang terjadi padaku hari ini
adalah hasil dari kegelapan itu.

Pernah ada satu titik,
di mana aku bahkan tidak bisa melihat diriku sendiri.

Di saat yang bersamaan,
hal-hal buruk datang sekaligus,
seperti semesta melempar semuanya dalam satu waktu.

Aku mencoba segala cara untuk bertahan.

Sesederhana berkata:
bertahan satu hari.

Ketika satu hari terasa terlalu berat,
aku turunkan menjadi setengah hari.

Lalu satu jam.

Lalu satu detik.

bertahan satu detik lagi saja.

Dan anehnya,
dari satu detik itu, selalu ada hal kecil yang muncul.

Sesederhana ingin menonton kelanjutan drakor yang masih ongoing.

Aku tidak pernah merasa itu konyol.

Karena itulah caraku hidup, kala itu.

- - -

Sebenarnya, aku tidak pernah benar-benar menaruh hidupku pada orang lain.

Hanya saja, aku memberi diriku sepenuhnya untuk mendukung,
sampai tanpa sadar mengubah urutan dalam hidupku sendiri.

Ini yang perlu diperbaiki, tentunya.

Karena bersanding dengan ego, dengan diri, dengan “DNA all in” itu sendiri,
perlahan justru mengikis diriku.

Aku sering bertanya.
Mempertanyakan banyak hal.

Tapi hidup yang kuinginkan
dan hidup yang sedang kujalani
ternyata berjalan berlawanan arah.

Mungkin aku harus jujur,
dan menerima,
bahwa satu-satunya yang tidak pernah meninggalkanku
adalah diriku sendiri.

Bentuk hadir yang kuberikan pada orang lain
seringkali lebih besar daripada yang kuberikan pada diriku sendiri.

Tapi di sisi lain, aku mengerti
mengapa aku melakukan itu.

Dan sekarang,
tugasku adalah belajar menerima,
bahwa kesendirian
adalah pilihan.

dan mungkin,
ini bukan pertama kalinya
aku mencoba melihat diriku sendiri, kembali

mungkin sudah ke sekian kali

tapi kali ini,
aku memilih untuk memulainya lagi

dari nol

dan kembali berkelana.

halogina

Telling stories, in words and visual.

Follow

Reach

sapa@halogina.com

© 2026. May you find some chocolates here.